Tampilkan postingan dengan label ilmu kalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu kalam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 April 2010

Al-Asy'ari (ahlussunnah)

A. AL-ASY’ARI
1. Riwayat Singkat Al-Asy’ari
Nama lengkap Al-Asy’ari adalah Abu Al-Hasan Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari. Menurut beberapa riwayat, Al-Asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260 H/875 M. Ketika berusia lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun 324 H/935 M.


Menurut Ibn Asakir, ayah Al-Asy’ari adalah seorang yang berfaham Ahlussunnah dan ahli Hadis. Ia wafat ketika Al-Asy’ari masih kecil. Sebelum wafat, ia berwasiat kepada seorang sahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya As-Saji agar mendidik Al-Asy’ari. Ibu Al-Asy’ari, sepeninggal ayahnya, menikah lagi dengan seorang tokoh Mu’tazilah yang bernama Abu Ali Al-Jubba’i (w. 303 H/915 M), ayah kandung Abu Hasyim Al-Jubba’i (w. 321 H/932 M). Berkat didikan ayah tirinya itu, Al-Asy’ari kemudian menjadi tokoh Mu‘tazilah. Ia sering menggantikan Al-Jubba’i dalam perdebatan menentang lawan-lawan Mu’tazilah.
Al-Asy’ari menganut faham Mu’tazilah hanya sampai ia berusia 40 tahun. Setelah itu, secara tiba-tiba ia rnengumumkan di hadapan jamaah mesjid Bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham Mu’tazilah dan menunjukkan keburukan-keburukannya. Menurut Ibn Asakir, yang melatarbelakangi Al-Asy’ari meninggalkan faham Mu’tazilah adalah pengakuan Al-Asy’ari telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. sebanyak tiga kali, yaitu pada malam ke-l0, ke-20, dan ke-30 bulan Ramadan. Dalam tiga mimpinya itu, Rasulullah memperingatkannya agar rneninggalkan faham Mu’tazilah dan membela faham yang telah diriwayatkan dari beliau.

2. Doktrin-doktrin Teologi Al-Asy’ari
Pemikiran-pemikiran Al-Asy’ari yang terpenting adalah berikut ini.
a. Tuhan dan sifat-sifat-Nya
Al-Asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat yang dijelaskan oleh Mu’tazilah, seperti mempunyai tangan dan kaki, dan ini tidak boleh diartikan secara harfiah, melainkan secara simbolis. Selanjutnya. Al-Asy’ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.
b. Kebebasan dalam Berkehendak (Free- Will)
Al-Asy’ari membedakan antara kholiq dan kasb. Menurutnya, Allah adalah pencipca (khaliq) perbuatan manusia,. sedangkan manusia sendiri yang mengupayakannya (muktasib). Hanya Allah-lah yang mampu menciptakan segala sesuatu (termasuk keinginan manusia).
c. Akal dan Wahyu dan Kriteria Baik dan Buruk
Walaupun Al-Asy’ari dan orang-orang Mu’tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu, mereka berbeda dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al-Asy’ari mengutamakan wahyu, sementara Mu’tazilah mengutamakan akal.
Dalam menentukan baik buruk pun terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Al-Asy’ari berpendapat bahwa baik dan buruk harus berdasarkan pada wahyu, sedangkan Mu’tazilah mendasarkannya pada akal.
d. Qadimnya Al-Quran
Al-Asy’ari mengatakan bahwa walaupun Al-Quran terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak qadim. Nasution mengatakan bahwa Al-Quran bagi Al-Asy’ari tidaklah diciptakan sebab kalau ia diciptakan, sesuai dengan ayat:
Artinya. “Jika kami menghendaki sesuatu. Kami bersabda, “Terjadilah”
maka ia pun terjadi” (QS. An-Nahl [16]: 40)
e. Melihat Allah
Al-Asy’ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan ru‘yat dapat terjadi manakala Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat atau bilamana ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihatNya.
f. Keadilan
Al-Asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga Dia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah Penguasa Mutlak.
g. Kedudukan Orang Berdosa
Mengingat kenyataan bahwa iman merupakan lawan kufr, predikat bagi seseorang haruslah salah satu di antaranya. Jika tidak mukmin, ia kafir. Oleh karena itu, Al-Asy’ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufr.

Ilmu Kalam

Pengertian Ilmu Kalam

Menurut Musthafa Abdul Raziq, ilmu Kalam adalah yang berkaitan dengan akidah imani ini sesungguhnya dibangun diatas argumentasi-argumentasi rasional. Atau ilmu yang berkaitan dengan akidah islami ini bertolak atas bantuan nalar.
Menurut Al-Farabi : Ilmu Kalam adalah disiplin ilmu yang membahas Dzat dan Sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin islam. Stressing akhirnya adalah memproduksi ilmu ketuhanan secara filosofis.
Menurut Ibnu Kaldun Ilmu Kalam adalah disiplin Ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang akidah imani yang diperkuat dalil-dalil rasional.

Apabila memperhatikan definisi ilmu Kalam diatas, yakni Ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan Argumentasi logika atau Filsafat, Secara teoretis aliran Salaf tidak dapat dimasukkan ke dalam aliran Ilmu Kalam, karena aliran ini dalam masalah-masalah ketuhanan tidak menggunakan argumentasi Filsafat atau Logika Aliran ini Cukup dimasukkan kedalam Aliran ilmu Tauhid atau Ilmu ushuluddin atau Fiqh al-akbar.

Alasan Ilmu ini disebut Ilmu Kalam !?

Problema yang diperselisihkan para ulama dalam ilmu ini yang menyebabkan umat islam terpecah kedalam beberapa golongan adalah masalah kalam Allah atau Al-Qur’an : Apakah ia diciptakan (makhluk) atau tidak (qadim).
Materi-materi ilmu ini adalah teori-teori (kalam) tidak ada yang diwujudkan kedalam kenyataan atau diamalkan dengan anggota.
Ilmu ini di dalam menerangkan cara atau jalan menetapkan dalil pokok-pokok akidah serupa dengan ilmu mantik.
Ulama-ulama mutaakhirin membicarakan di dalam ilmu ini hal-hal yang tidak dibicarakan oleh ulama shalaf, seperti penakwilan ayat-ayat mutasyabihad, pembahasan tentang qada’, qolam, dan lain-lain.

Materi Kajian Ilmu Kalam

Hal-hal yang berkaitan dengan Allah S.W.T. termasuk didalamnya tentang ketentuan takdir Allah kepada mahluk-mahlukNya.
Hal-hal yang berkaitan dengan utusan Allah Sebagi Perantara (wasilah) antara Allah dengan manusia, seperti malaikat, para nabi / rasul, dan kitab-kitab suci yang telah Allah turunkan.
Hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sesudah mati seperti surga, neraka, dan seagainya.

Sumber-sumber Ilmu Kalam

Al-Qur’an
Ayat-ayat Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang dzat, sifat, asma, perbuatan, tuntunan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan seperti yang trdapat dalam Q.S. Al-Ikhlas : 3-4, Q.S. Asy-Syura : 7, Q.S. Al-Furqan : 59, Q.S. Al-Fath : 10, Q.S. Thaha : 39, Q.S. Ar-Rahman : 27, Q.S. An-Nisa’ : 125, Q.S. Luqman : 22, Q.S. Ali Imran : 83, Q.S. Ali Imran : 84-85, Q.S. Al-Anbiya : 92 dan Q.S. Al-Hajj : 78.
Hadits
Hadits Nabi S.A.W. yang menjelaskan tentang hakikat keimanan.
Hadits yang dipahami sebagian ulama sebagai prediksi Nabi mengenai kemunculan berbagai golongan dalam Ilmu Kalam.